Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik

Gunung Butak via Panderman. Dinamakan Butak karena didominasi oleh puncak dan lahan yang gundul. Berketinggian hingga 2.868 mdpl, daya tarik utama pendakian Gunung Butak adalah sabana yang luas dan semakin dipercantik dengan bunga edelweiss yang berjajar. Secara administratif, Gunung Butak terletak di antara kabupaten Malang, Batu, dan Blitar. Hingga saat ini, ada beberapa jalur yang bisa menjadi opsional untuk mendaki Gunung Butak:

  • Buthak via Panderman
  • Buthak via Sirah Kencong
  • Buthak via Dau
Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik


Ngesot ke Basecamp Butak-Panderman


Kota Batu tidak asing bagi orang-orang yang demen liburan. Tempat-tempatnya selalu asyique buat ngadem. Mudah dijangkau dari penjuru dunia manapun. Pendakian Gunung Butak bisa diakses via Panderman (Malang), dan via Sirah Kencong (Blitar). Para pendaki bisa cuap-cuap mesra dulu di basecamp-basecampnya:


Lokasi basecamp pendakian Gunung Butak via Panderman:

https://goo.gl/maps/PyUYdZxWJDZV2jrT6

Lokasi basecamp pendakian Gunung Butak via Sirah Kencong:

https://goo.gl/maps/X8cUcKzteQXAq67b7

Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Berikut rangkuman perjalanan ngesot dari pos ke pos:

Ngesot ke Pos 1 (90 menit)

Jalan setapak di antara perkebunan
banyak percabangan
mulai masuk hutan
pos 1 yang luas
ada sumber air
bisa mendirikan tenda
ada warung.

Ngesot sambil melet-melet ke Pos 2 (90 menit)

Trek tanah yang berpasir
ke kiri tanjakan php
ke kanan jalur memutar
bertemu di satu jalur yg sama(tepat di atas tanjakan PHP)
pos 2 datar terbuka tapi sedikit miring.

Ngesot ke Pos 3 (90 menit)

Masuk ke hutan lebat
masuk hutan lumut
pos 3 ideal untuk mendirikan tenda.


Ngesot ke Pos 4 Sabana (120 menit)

Melewati jalan berliku dan menyisiri tebing/jurang di sebelah kanan-kiri
vegetasi mulai terbuka.

Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Waktunya Balas Dendam di Sabana

Mendekati sabana kita akan disambut oleh edelweiss-edelweis yang membentuk pintu selamat datang.
Puncak Mana Puncak? (1 jam kalo ga kolot)

Cemara-cemara akan banyak nongol selama kita summit attack. Jalur menuju puncak Gunung Butak emang didominasi oleh pepohonan tinggi yang aestetic dan batuan-batuan besar yang kudu diloncati. Nggak loncat juga sih, terbang juga bisa.

Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Jika lagi rezeki anak soleh, kita bisa mendapati golden sunrise yang epic di puncak 2.868 mdpl Gunung Butak ini. Lanskap akan terpampang kece jika cuaca lagi nggak ngambek. Bisa-bisa kita dapet puncak dengan view tembok kalau nggak beruntung. Duaarrrr.

Asyiknya Ngglundung Sampai Bawah (bisa patas 1-2 jam kalau mau)

Kalau sedang kepedean, kita bisa turun dari Gunung Butak hanya dengan jurus seribu langkah kaki alias running. Anggap aja jogging-jogging manja sih. Atau dengan alasan keburu kebelet boker atau keburu dicariin emak.

Serius. Bisa kok lari-larian turun, karena jalur Gunung Butak cukup bersahabat jika dibuat turun cepat. Yang jelas persiapkan matang-matang kaki bagai kuda, dan mata biar enggak nerobos pendaki lain di depannya.

Estimasi waktu pendakian Gunung Butak via Panderman

  1. Basecamp-pos 1 : 1 jam
  2. Pos 1-pos 2: 1 jam 30 menit
  3. Pos 2-pos 3 : 2 jam
  4. Pos 3-pos 4 sabana: 2 jam
  5. Pos sabana-puncak: 1 jam

Diperlukan sekitar 7.5 jam untuk mencapai puncak gunung butak lewat jalur panderman.

Registrasi dan tiket masuk: Rp.10.000 per orang dan surat keterangan sehat dan wajib memakai masker (pandemi covid-19)
Tempat parkir: parkir bawah dan parkir atas
Ojek parkiran bawah-basecamp: Rp.15.000 sekali jalan
Tempat belanja logistik: Pasar Batu
Tempat persewaan peralatan gunung: di parkiran bawah
Sumber air: basecamp, pos 1, dan sabana
Camp area ideal: sabana

Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
Cerita Gunung Butak: Ngokop Air Tadah Flysheet

Tiga kali melakukan misi ngesot ke Gunung Butak, pendakian pertama emang damage-nya ga ngotak, ga ada obat wkwk!! Kalau misi kedua dan ketiga di tim kami mulus-mulus aja. Bisa tidur enak. Makan enak. Nyemplung-nyemplung enak. Klesotan terseraahhh!!

Pendakian pertama ke Gunung Butak dilakukan di bulan Januari 2017 ketika penghujan sedang gemoy-gemoynya. Rombongan kami termasuk gerudukan seperti mau demo: ada 10 personil. Dari yang masih belia sampai yang udah berkepala tiga tapi ga nikah-nikah juga.

Sekira setelah hutan lumut, langit Gunung Butak berubah menjadi gelap. Enggak heran lagi kalau hujan bakal turun. Dan tak tanggung-tanggung, langsung deras dan berangin dong. Tadaaa. Mau tidak mau harus memperlambat laju jalan. Padahal sebelumnya, dari pos ke pos, kami jalan santuy banget. Enggak kekurangan waktu buat break.

Bukannya nakut-nakutin, nih! Sebelum menyisiri jalur yang sebelah kanan dan kirinya jurang, lebih tepatnya sebelum cemara-cemara tinggi, dua cewek di tim kami mendapati kejadian tidak enak: kesurupan dong. Ada yang kram. Ada yang mukanya udah kayak orang kehabisan duit. Teman-teman yang lain juga kelelahan. Hipotermia mengancam di depan mata, cuy. Dan seketika itu pula kami harus berhenti dan mencari tempat yang aman buat dijadikan camp area. Padahal di jalur tersebut tidak ada space yang ideal buat mendirikan tenda. Kalau lanjut tidak baik. Kalau turun malah bahaya bagi tim. Alhasil kudu menebas rumput di jalur. Dan berbesar hati buat sakit punggung karena tidur di kontur yang miring!

Belum puas dengan njebeber ketika naik Gunung Butak, perjalanan turun pun masih dihajar hujan dong. Dan entah karena kuwalat atau gimana, ternyata gue juga kesurupan ketika di hutan lumut anjir. Pantesan cepet amat udah turun ternyata salah satu temen gue rela menggendong cewek sok iyee macam gue wkwk. Sumpah dosa banget.

Lagi-lagi, kami dengan pendakian Gunung Butak belum kehabisan cerita. Setengah perjalanan turun, kami udah kehabisan air. Walaupun hujan tetep turun tanpa dosa, persediaan air kami sedang terancam. Di pos 3, kami menggelar flysheet darurat untuk istirahat dan berteduh karena ada di antara kami yang kakinya kram.

Dan rejeki nomplok dong. Dapet air hasil tadah hujan. Teman kami yang selera humornya receh enggak pake malu langsung kokop aja tuh air hujan wkwk. Gitu aja kami udah kompak membully dan tertawa tanpa dosa. Seketika lupa kalau sedang njebeber di Gunung Butak kali, ya.

Pendakian Gunung Butak via Panderman dengan Sabana yang Cantik
 

Paling Teduh di Gunung Butak

Beberapa kali menjenguk Gunung Butak, hutan lumut tetap menjadi bagian paling memikat dan tidak pernah membosankan versi gue. Sebelum memasuki hutan lumut gue harus berjalan di paling depan biar tiba lebih dulu daripada lainnya. Dan gue bisa sesuka hati berlama-lama di hutan lumut. Kalau perlu setelahnya gue belakangan aja biar bisa puas-puasin dulu healing. Norak sih tapi bodo amat.

Sewaktu ngobrol dengan salah satu warga lokal, beliau ngasih wejangan kalau jangan sampai berlama-lama di hutan lumut, apalagi kalau sampai mendirikan tenda di sana. Baiknya dipercepat aja ketika melintasi hutan lumut.

Percaya atau tidak sih. Tapi jika dipikir secara logika memang masuk akal. Vegetasi di hutan lumut sangat rapat. Sinar matahari nyaris minim. Tingkat kelembapan pastinya juga berbeda dengan bagian lain. Dan risiko keberadaan binatang buas juga bisa mencuat kapan saja. Yap it’s relate, kok.

LihatTutupKomentar