Menyelisik Hutan Kering Gunung Arjuno via Lawang

Gunung Arjuno (gunung berapi kerucut yang sedang tidak aktif) memiliki titik tertinggi yaitu 3.339 mdpl yang bernama Puncak Ogal-Agil. Terletak di perbatasan antara Malang Raya dan Pasuruan, Gunung Arjuno berada di bawah pengelolaan Tahura R. Soerjo. Pendakian Gunung Arjuno bisa menjadi agenda para pecinta ketinggian karena bisa dijangkau lewat beberapa basecamp: Lawang, Tretes, Purwosari, dan Sumber Brantas.


Menyelisik Hutan Kering Gunung Arjuno via Lawang


“Kecintaan kepada negeri dan tanah air bisa ditumbuhkan dengan cara mendaki gunung.”-Soe Hok-gie
 

Gunung Arjuno yang Gagah

Kalau disuruh mengingat-ingat tentang Arjuno via Lawang, aku pasti auto-goblok. Kebanyakan orang pasti akan dengan fasih ngasih informasi tentang estimasi waktu, biaya, termasuk cara registrasi. Dengan aku yang memiliki daya ingat terbatas, informasi mengenai pendakian Gunung Arjuno via Lawang pasti tidak akan sedetail yang kalian ekspetasikan.

Lebih gereget kalau kamu ke sana langsung tanpa banyak cing-cong, tapi harus tetap mempersiapkan apa saja yang sudah semestinya tidak terlewati.

Menuju Basecamp Pendakian Gunung Arjuno

Banyak jalan menuju rumah. Lokasi basecamp pendakian gunung Arjuno sangat mudah dijangkau dari segala penjuru. Kendaraan roda dua maupun empat bisa menuju basecamp karena akses jalannya sangat mudah. Bisa jasa angkutan ojek, kendaraan pribadi, buroq, bahkan awan kinton. Haha, canda kinton.

Berikut adalah rute menuju basecamp pendakian gunung Arjuno yang berada di bawah pengelolaan Tahura Raden Soerjo :

Perjalanan dari Jakarta

Jika melakukan perjalanan kereta jarak jauh, biasanya dari Jakarta menggunakan kereta Matarmaja, kita bisa turun di Stasiun Malang Kota Baru. Setelah itu, kita bisa naik angkot munuju terminal Arjosari, kemudian oper Angkot Hijau (LA) dengan tujuan Lawang yang berhenti di pangkalan ojek Song-song. Lalu, kita naik ojek menuju basecamp.

Perjalanan dari Surabaya

Kalau menggunakan kereta lokal kita bisa turun di stasiun Lawang. Kemudian menuju Pasar Lawang. Jika menggunakan bus kita bisa langsung turun di Pasar Lawang

Dilanjut naik angkot menuju pangkalan ojek Song-song baru kemudian naik ojek menuju basecamp.

Setelah tiba di pos perizinan, kita bisa melaju sedikit ke atas untuk mencari tempat penitipan kendaraan, rata-rata motor, sih. Salah satu rumah yang bisa dijadikan tempat singgah adalah rumah terakhir kedua dari gapura masuk perkebunan teh, biasa dipanggil Mak Ti.

Setiba di rumah beliau, kami langsung dijamu dengan satu teko teh hangat. Kami sangat dipersilakan untuk duduk dan beristirahat di dalam rumahnya dengan digelar karpet-karpet hangat. Ada satu kamar kosong dan kami, para perempuan, diminta buat tidur di kamar itu. Barangkali Mak Ti merasa iba dan kasihan kepada anak-anak kecil macam kami karena datang tengah malam mendekati subuh. Aihh, Mak Ti selalu terbaik.


Menyelisik Hutan Kering Gunung Arjuno via Lawang


Basecamp-Pos 1 Alang-alang

Hal yang paling berdosa adalah membuat janji buat start trekking jam 6 pagi tapi kenyataannya jam 8 baru bangun. Sangat asem sekali, bukan?

Hebatnya, kami pukul 9 baru registrasi dan start jalan pukul 10. Kami adalah rombongan yang berangkat terakhir kali daripada rombongan-rombongan yang sebelumnya sudah berangkat ketika subuh. Penistaan sekali. Mak Ti udah ngorak-ngorak sedari pagi agar kami segera berangkat, biar tidak mendapati trekking malam hari. Namun apalah kami bolot dan molor sekali.

Benar sekali. Siang itu panas bingitttss. September menyisakan kemarau yang cukup ugal-ugalan. Belum lagi lanskap kebun teh yang terbuka dan sangat blak-blakan, sehingga kita bisa dapat sinar matahari secara los-losan dan gak pakek malu. Saking blak-blakannya kita bisa menyaksikan ada ind*mar*t di pucuk tertinggi gunung arjuno. Canda pucuk. Haduh.

Gunung Arjuno punya kontur yang bermacam-macam: hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung. Suhu di sana didominasi oleh udara yang panas, kering. Dan yang paling unyu-unyu dari pendakian Arjuno via Lawang adalah tidak ada sumber mata air yang terjangkau. Jeng jeng jenggg!!!

Setelah menyusuri kebun teh dan pepohonan manja, kita bisa meratapi nasib kalau kita udah terjebak di jalur pendakian yang landai namun tidak mulus: berbatu. Gak capek tapi boong.

Sekira satu jam berjalan, akan kita temui sebuah bangunan gubug: Pos 1 Alang-alang. Itu adalah perbatasan antara kebun teh dan jalan masuk hutan. Kira-kira bisa didirikan tenda. Tapi masa iya mau camp dulu baru lanjut, atau camp di pos 1 lalu turun lagi ke basecamp, baru tuh nanjak gas pol langsung ke puncak. Haduhh.

Pos 1 Alang-alang-Pos 2 Lincing (2,5 jam)

Jadi, sebelum sampi di pos 2, kita bakal mendapati jalur yang cukup menanjak. Dan kalau dirasa-rasai capek juga. Jalanan berupa tanah keras yang lumayan sempit-serasa menyusuri red carpet.
 

Akan kita temui sebuah shelter yang sangat jelas: Pos 2 Lincing. Recommended banget buat kita-kita yang udah mager, lemas, letoy, atau capek hidup. Ehhh, canda. Area cukup untuk menampung 3 sampai 4 tenda.

 Pos ini merupakan percabangan menuju jalur asik atau tidak asik: sabana yang muter-muter atau tanjakan manja bukit lincing. Yang paling ideal ya lewat sabana. Tapi kalau pengen hardrock-an ya lewat bukit lincing, lah.

 Kalau ingin sedikit menyusahkan diri sendiri, kita bisa melipir ke arah kiri dari pos 2: menuju sumber air yang asique karena melewati dua punggungan bukit selama 15 menit. Seru, kan?


Menyelisik Hutan Kering Gunung Arjuno via Lawang

 

Pos 2 Lincing-Pos 3 Mahapena (4 jam)

 Karena tergiur dengan penampakan sebuah warung, kami melipir ke arah kiri menuju sebuah tanah yang cukup lapang. Ada bendera yang berkibar-kibar. Yapp, kami menuju Budug Asu. Kami sengaja muter ke sana karena ingin mengisi perbekalan air. Sebenarnya, dari pos 2 kita bisa melipir ke arah kiri menuju sumber air di mana kita harus melewati dua punggungan bukit, tanjakan dan turunan, melewati dua benua dua samudra dua alam semesta. Haha, canda semesta.

Dari Budug Asu, kita harus menyisiri jalur batuan yang cukup menanjak untuk sampai di jalur sabana. Tapi jalur sabana sangat asik, mulus karena tanah. Kalau mau, kita bisa bawa layang-layang barangkali mau main-main di sabana karena anginnya cukup oke, sih. Umumnya kita menemui sabana gunung itu lanskapnya luas, cukup datar, rumput-rumputnya mungil. Kalau di sana rumputnya tinggi-tinggi dan bisa dibuat main petak umpet. Buseeett kan.

Setelah sabana, akan kita temui cemara-cemara yang cukup tinggi dan tertutup. Sebuah persimpangan akan terlihat sebelum sampai di pos 3 Mahapena.

Pos 3 tidak bisa dikata luas, hanya menampung 4-5 tenda. Di pos 3 kita bisa menyaksikan tepat di arah barat ada lanskap daratan Malang. Kalau beruntung, senja akan tertampak cantik jika dilihat dari Mahapena.

Pos 3 Mahapena-Pos 4 Gombes (2 jam)

Menuju pos 4 adalah jalur dengan vegetasi yang cukup tinggi. Cemara-cemara semakin mendominasi.

Pos 4 adalah tempat yang paling ideal buat mendirikan tenda. Tidak terlalu jauh kalau summit daripada pos 3. Luasnya bisa menampung lebih dari 10 tenda. Eitss,  bagaimanapun juga, jangan berharap ada sumber air, ya. Kecuali kalau kamu itu pawang hujan dan bisa sesuka hati menurunkan mereka. Hmmm.

Pos 4 Gombes-Puncak Ogal Agil (2,5 jam)

Untuk sampai di puncak Ogal Agil, kita wajib melewati Alas Lali Jiwo-Cemoro Sewu-Plawangan-baru tuh puncak. Iyalah, ngelewatin itu dulu, masa loncat dan terbang.

Berbicara alas lali jiwo, pasti agak gemes-gemes gimana gitu ya. Percaya ga percaya, kita sebagai tamu patut untuk menghargai mereka sebagaimana kita adalah orang asing.

Selepas berjalan dengan penuh perjuangan dan melet-melet, Plawangan tertanggal di depan mata: pertemuan jalur pendakiaan Gunung Arjuno via Lawang dan via Purwosari. Lanskap sudah terlihat sangat terbuka. Saking terbukanya, siapapun bisa salto-salto di sana, haha. Cantigi terlihat tumbuh berdampingan dan acak. Jangan dibayangkan saja puncaknya, tapi ya harus jalan lah, Tong, memutari lereng gunung Arjuno. Bebatuan tidak akan ada habisnya terlihat di jalanan menuju puncak. Sampe kita bisa berhalusinasi kalau bebatuan itu adalah bongkahan es krim. Keren, kan?

We catched it!! 3.393 mdpl telah kita pijak seiring dengan rasa ingin patah kaki, peluh, dan air mata. Barangkali, siapa pun merasa tidak menyangka bisa membawa kaki menuju puncak gagah Gunung Arjuno. Yap. Ogal Agil dengan segala pengorbanan.


Menyelisik Hutan Kering Gunung Arjuno via Lawang


Perjalanan Meninggalkan Ogal-Agil

It was relate. Menuruni gunung itu harus tabah. Kita harus memastikan diri agar tetap berhati-hati, fokus. Biasanya, team gampang cekcok sewaktu perjalanan turun.

Karena perbekalan air sudah habis sebelum sampai di pos 2-kami turun lewat Bukit Lincing yang dikira bakal lebih cepat tetapi nyatanya menguras tenaga. Kami sempat adu argumen, antara terobos sampe bawah tanpa perbekalan air atau mencari sumber air yang belum bisa dipastikan ada atau tidaknya, karena kami dapat banyak informasi kalau sumber sulit dijangkau. But we nailed it. Beberapa dari kami, tiga orang, memberanikan diri untuk mencari air walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Gila sih menurutku.

Menyelisik Hutan Kering Gunung Arjuno via Lawang

Beberapa tips yang tidak penting-penting amat tapi kudu dibaca!! Maksa nih maksa!!

  1. Manajemen air: walaupun bawa banyak air, tapi kalau mengonsumsinya tidak sesuai kebutuhan ya sama aja bambankk.
  2. Logistik yang cukup dan merata.
  3. Kalau dikasih saran jangan sampe kesiangan ya nurut bambankk. Ini beneran. Jika kita punya kesempatan buat berangkat lebih awal ya gausah banyak cingcong langsung start aja. Cuaca, suhu udara, dan stamina kita itu saling berhubungan.
  4. Jangan bawa-bawa mood jelek. Ini nih yang aing rasain.
  5. Berkunjunglah ke sana setelah membaca tulisan yang ga penting-penting amat ini tapi ngangenin, ehh.





LihatTutupKomentar