Gunung Penanggungan via Tamiajeng yang Ramah untuk Pendakian


Gunung Penanggungan (1.653 mdpl) merupakan salah satu gunung ramah untuk pendakian yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Mojokerto. Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau Gunung Penanggungan via Tamiajeng dijadikan rujukan pendakian bagi para pemula, pecandu ketinggian, maupun bagi orang-orang yang suka lari-larian di gunung.

Dengan puncak yang berketinggian 1.653 mdpl, Gunung Penanggungan terbalut kabut sesekali  waktu, sehingga kerap dijuluki Gunung Pawitra. Wajahnya selalu cerah, kadang bersih, kadang abu-silih berganti.

Gunung Penanggungan Via Tamiajeng Ramah untuk Pendakian

Puncak Pawitra yang Menjulang

Replika puncak mahameru ini bisa dikunjungi melalui beberapa jalur yaitu via Tamiajeng, maupun via Jolotundo. Jika dilihat dari kejauhan, Gunung Penanggungan terlihat sempurna, seperti gunung ideal yang kita gambar sewaktu SD kali, ya? Seperti mountain visual goals.

Gunung Penanggungan Via Tamiajeng Ramah untuk Pendakian

Menuju Pos Perizinan Pendakian Gunung Penanggungan

Basecamp pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng bisa dikata sangat terjangkau. Lokasinya berdekatan dengan kampus Ubaya 3. Tempatnya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jalanannya juga sangat bersahabat dan sudah beraspal halus. Tanpa ribet, bisa langsung totol-totol rute peta menuju basecamp pendakian Gunung Penanggungan berikut:

https://g.page/GP1653?share

Pos Perijinan Gunung Penanggungan Via Tamiajeng - Google Maps

Selain itu, kita tidak bakal bersusah hati karena basecamp Tamiajeng berdekatan dengan fasilitas umum. Ada pasar, supermarket, ataupun toko kelontong yang banyak terlihat sepanjang menuju basecamp. Ada pula tempat penjualan dan persewaan peralatan outdoor sebelum pos perizinan Gunung Penanggungan:

 https://goo.gl/maps/27hj314dGtek7hYCA
 

Pos 1- Pos 2 (1 jam)

Untuk menjamah Gunung Penanggungan via Tamiajeng kita diharuskan registrasi terlebih dahulu di pos perizinan (pos1). Dengan mengisi buku pengunjung dan membayar Rp.10.000 per orang dan Rp.10.000 untuk tiap kendaraan yang dititipkan. Akan kita terima selembar peta jalur pendakian dan sehelai kantong sampah yang harus dipergunakan untuk menampung sampah-sampah kita dan diwajibkan untuk dibawa kembali turun.

Setelah meninggalkan pos 1 (basecamp), kita akan diarahkan di jalur paving, setelah itu jalanan berbatu. Menuju pos 2 merupakan jalanan yang dipakai warga sekitar untuk menuju kebun dan hutan. Bahkan kita bisa menggunakan kendaraan roda dua alias ngojek, kalau kebetulan ada.

Jalur masih landai dan didominasi tanaman kebun: kopi, palawija. Sering kita berpapasan dengan para petani yang ramah-ramah. Kalau beruntung, kita bisa diberi tumpangan sampai di persimpangan kebun. Kalau beruntung loh ya. Jangan ngarep.

Setelah bersantuy-santuy jalan, akan kita dapati gubuk di sebelah kanan yang merupakan warung, yaitu Pos 2. Banyak bangku-bangku yang tersedia. Kalau mager, kita bisa kok sekadar ngopi dan cuap-cuap mesra di pos 2 tanpa perjuangan jalan kaki yang membebani. Siapa suruh naik gunung?

 

Gunung Penanggungan Via Tamiajeng Ramah untuk Pendakian

 

Pos 2- Pos 3 (45 menit)

Menuju pos 2 jalur didominasi oleh tanjakan. Ada beberapa bagian yang dibuat berundak-undak karena lereng yang terkikis air. Jika sedang di musim hujan, akan berasa nyamuk-nyamuk yang kegenitan menghinggapi, terutama jika pendakinya adalah cowok. Asik, kan?

Gunung Penanggungan Via Tamiajeng Ramah untuk Pendakian

Pos 3- Pos 4 (40 menit)

Dari pos 3 ke pos 4 bisa dikata pendakian yang sesungguhnya tahap 1. Masih tahap 1 loh ya. Pasalnya, sepanjang jalur kita harus ngos-ngosan dan bersimbah keringat. Mana beban bawaan semakin terasa berlipat di pundak.

 

Gunung Penanggungan Via Tamiajeng Ramah untuk Pendakian

 

Pos 4- Puncak Bayangan (45 menit)

Kalau yang ini adalah perjalanan yang diharuskan untuk teliti. Sebab, banyak percabangan jalur selama menuju puncak bayangan.

Setelah sekitar 4 tahun tidak mengujungi, jalur menuju pos bayangan Gunung Penanggungan berubah dan dialihkan setelah sempat terjadi kebakaran. Tapi tenang aja. Selama kita mengikuti tanda jalur dan jejak kaki-bisa juga jejak sampah (ini sih yang kebangetan:3) enggak bakal kesasar. Dan selagi kita cermat dan tidak meremehkan gunung.

Yap. Kita bisa bersenang-senang sejenak ketika sampai di puncak bayangan. Pawitra tampak gagah dan bersahaja di depan mata. Batuan menuju puncak terlihat nyata-sangat menantang untuk summit attack setelahnya.

Gunung Penanggungan Via Tamiajeng Ramah untuk Pendakian

 

Puncak Bayangan- Puncak Pawitra (1 jam)

Di puncak bayangan, kita bisa mendirikan tenda di mana pun, dengan mempertimbangkan kemiringan tanah  biar tidurnya nyenyak, ya. Di tempat ini, tenda berapa pun bisa tertampung karena area cukup luas untuk kategori gunung ramah seperti Gunung Penanggungan.

Jangan berharap menemui sumber air di puncak bayangan, kecuali kalau kamu adalah pawang hujan yang bisa mengundang hujan kapan pun sesukamu.

Yang sangat menarik dari puncak bayangan adalah adanya bilik-bilik di sekitar campground. Kira-kira kita bisa kok sambil menjemur baju, syukur-syukur buka jasa laundry, hehe. Dan kabar baiknya, banyak spot-spot khusus yang bisa dipergunakan untuk buang air. Pipis with the view. Serius deh.

Summit attack can be started. Diperlukan sekira 1 jam untuk menempuh Puncak Pawitra, dengan melewati jalur terjal berupa bebatuan dinamis. Yang pasti, kehati-hatian adalah nomor satu.

Sebelum menemui puncak, ada sebuah goa kecil yang bisa kita temui sebuah goa. Kalau sudah ngos-ngosan dan melet-melet dihajar tanjakan, kita bisa sampai di puncak tertinggi Gunung Penanggungan. Harus banget ya melet-melet? Enggak juga sih, boy.

Puncak Pawitra adalah tanah datar yang cukup bisa dikata luas. Tapi, sangat tidak direkomendasikan jika mendirikan tenda di tempat ini. Ya iyalah siapa juga yang mau terhempas angin, apalagi badai.

Mojokerto terpampang jelas dari ketinggian 1.653 mdpl. Jalur pendakian Penanggungan dari Jolotundo terlihat dari sebelah utara. Lanskap punggungan dan bukit-bukit hijau tidak akan pernah membosankan untuk dilihat. Sesekali, awan-awan berjalan mengitari gundukan Puncak Pawitra dan bukit-bukit yang bersebelahan dengannya. Menakjubkan. Banyak-banyak berdoa, ya, biar enggak dapet view tembok. Okghkay?!!!

Gunung Penanggungan Via Tamiajeng Ramah untuk Pendakian


Cerita Pawitra: Ada Jeder-jeder Tapi Bukan Hatiku

Entah kutukan atau saking sayangnya Gunung Penanggungan pada kami, selama dua kali mendaki gunung dari desa Tamiajeng ini baik tektok ataupun camp selalu dapet cuaca yang sedep-sedep asik. Perjalanan menuju puncak bayangan sih bagus cuacanya. Tenang. Enggak panas-panas banget.

Setibanya di campground (puncak bayangan), kabut selalu terpampang nyata. Pas mau summit, aing berusaha mempengaruhi teman biar kaga usah summit, wkwk. Mager, euy. Mana kabut, plus jalurnya terjal. Belum lagi kalau udah terlalu puas ngopi sebat di puncak bayangan.

Kira-kira 15 menit jalan menuju puncak, suara jeder-jeder udah pada kedengeran padahal lagi panas-panas aja, tuh, cuaca. Lalu disusul presipitasi, lebih tepatnya gerimis yang turun. Seketika atas-bawah, kanan-kiri dikelilingi kabut. Mana nggak gemas-gemas seger coba?

Antara lanjut terobos atau turun, tergantung kondisi kami saat itu sih. Pernah karena kali pertama mendapati gluduk di siang bolong yang panas, dan saat itu tinggal beberapa langkah lagi dekat puncak, kami memutuskan turun aja daripada ambil risiko. Selain itu juga lagi enggak bawa jas hujan ketika summit.

Nah, kalau pendakian kedua kami tetep terobos aja karena sudah feeling kalau bakal kena hujan ketika summit. Dan memang benar di puncak dapet gerimis yang agak deras dan view tembok, cuy. Saat itu kami yakin-yakin aja, sih, walaupun kebasahan.

Dan ternyata cuaca bisa berubah semudah kita ngeluarin boker, haha. Kabut di Gunung Penanggungan memang super aktif: bergerak dinamis. Kabut tersingkap dan view langsung cerah begitu saja. Seketika langsung kelihatan jelas lanskap di bawah Gunung Penanggungan. Ngejrenggg.

Gunung Penanggungan Via Tamiajeng Ramah untuk Pendakian

Pawitra emang gilak dan istimewa, kan?
 

Meninggalkan Pawitra

Perjalanan turun dari Gunung Penanggungan memerlukan konsentrasi yang ekstra. Kalau naiknya sekira 4 jam menanjak, turun pun bisa saja 5 jam jika kita berjalan dengan rasa pesimis. Turunannya curam apalagi ketika musim hujan. Kalau beruntung, kita bisa hujan-hujan sambil main prosotan. Percaya? Harus lah.

Gunung Penanggungan adalah teman bagi siapa saja. Parasnya rupawan. Mudah memikat siapa pun buat kembali lagi dan lagi. Ada teduh, ada terik. Ada aman, ada juga badai. Terlepas dari Mojokerto dengan kawasan industrinya yang semakin ganas, dan hutan-hutan yang semakin banyak dialihkan, Pawitra dan Tamiajeng adalah rumah yang selalu ikhlas menaungi penghuni-penghuninya. Semoga gunung dengan hutan yang sempat terbakar ini pulih dan tidak akan terjadi lagi, ya.

LihatTutupKomentar